Menyusun Kerangka Novel
Assalamualaikum wr wb
Dibuatnya laman blog ini untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia pada Bab "Novel". Sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri :
Kelas : XII MIPA - 10
Absen : 14
A.
Tema
Perjuangan,
Persahabatan, Sosial
B.
Judul
“Bangkit
dan Mencetak Skor!”
C.
Tokoh
dan Perwatakan
a. Tokoh
Protagonis
Irfan :
pekerja keras, penyabar, baik
b. Tokoh
Antagonis
Rizky :
sombong
c. Tokoh
Tritagonis
1. Alif :
rendah hati, dermawan, cerdas
2. Adit :
setia kawan, pemberani
3. Ibu
Irfan : penyabar, baik
4. Ayah
Alif : dermawan, baik
5. Bambang
P : baik, berkarisma
D.
Alur
Pada
novel ini menggunakan alur maju
E.
Latar
a.
Latar
Tempat
Rumah
Irfan, Sekolah, Lapangan
b.
Latar
Waktu
Pagi,
siang, sore, malam
c.
Latar
Suasana/Sosial
Tegang,
sedih, senang
F.
Amanat/Tujuan
a.
Bermimpilah
disertai dengan usaha dan doa
b.
Keberhasilan
tidak akan dicapai tanpa kerja keras dan doa ibu
c.
Persahabatan
mampu membawa keberhasilan dengan lebih mudah
G. Ringkasan Novel/Gambaran Cerita
Pada suatu hari ada seorang anak bernama Irfan, ia adalah seorang anak baik yang tinggal bersama ibunya. Karena ayah Irfan telah meninggal ketika Irfan berumur 7 tahun dikarenakan penyakit. Irfan setiap hari selalu membantu ibunya untuk berjualan dan juga mengantarkan koran. Irfan setiap pagi mengantarkan koran dengan berjalan kaki mengelilingi kampungnya. Kemudian setelah Irfan mengantarkan koran, Irfan langsung menuju ke sekolah. Irfan di sekolah termasuk murid yang biasa saja dalam bidang akademisnya, namun Irfan sangat cemerlang dalam sepak bola.
Irfan setiap hari selalu bermain bola bersama teman – temannya di lapangan pada sore hari. Sehingga Irfan dapat mengasah skill sepakbolanya menjadi sangat baik. Namun di sekolah, Irfan selalu terkena bully oleh teman – temannya yang lain karena kekurangan yang dimiliki oleh Irfan. Salah satu teman Namun Irfan memliki teman yang selalu menemaninya, yaitu Alif dan Adit. Irfan selalu sabar ketika ia menerima bullyan dari teman – temannya. Namun sahabatnya Irfan menerima kekurangan Irfan dan juga selalu menghibur Irfan ketika ia sedang tidak percaya diri.Irfan sangat bersyukur sekali memiliki teman seperti Alif dan Adit.
“Aku ingin menjadi pesepakbola hebat seperti idolaku, Karim Benzema!” ucap Irfan dengan penuh keyakinan. Karena itu, Irfan sering ditertawakan dan dicemoohi sekitarnya. Terutama Rizky, bersama dengan teman-temannya mereka senang sekali membully Irfan. “Pesepakbola? Mimpilu ketinggian, bro!” ucap Rizky. Irfan tidak mempedulikan ucapan mereka. Karena ia yakin dengan kerja keras dan doa apapun bisa dilakukan.
Kemudian pada suatu siang sepulang sekolah, Irfan mengajak teman – temannya bermain bola. “Lif, Dit hayu kita main bola nanti sore” kata Irfan. “Hayuu” jawab Alif dan Irfan. Kemudian ketika mereka dan teman – teman lainnya sedang bermain bola, datanglah Rizky dan teman - temannya yang biasa membully Irfan ketika di sekolah. Mereka datang dan kemudian mengusir Irfan dan teman – teman yang sedang bermain disana sambil berkata, “Hey kalian ngapain disini? Jangan sok jago main bola di lapangan sini!” ucap Rizky. Kemudian Irfan dengan sabar menjawab ocehan Rizky dan berkata “Kenapa kita tidak bermain bersama saja agar kita semuda bisa bermain dengan senang dan gembira”. Lalu kemudian Rizky dengan kesal berkata “Ah ngapain main dengan kalian – kalian, kalian semua bukan level kita, hahaha” Rizky tertawa.
Kemudian Alif pun sudah tidak bisa menahan emosinya dan berkata “Kalau begitu sini sparing main bola kalau berani! Dan yang menang berhak ,bermain di lapangan ini”. Kemudian Rizky dengan sombong berkata “Hahaha kalau lawan kalian mah sepele” semua teman - teman Rizky pun tertawa. Kemudian setelah itu akhirnya mereka semua setuju untuk sparing main bola untuk mendapatkan lapangannya. Lalu pertandingan dimulai dengan sengit, tim Rizky bermain sangat kasar dengan menggunakan badannya yang besar – besar untuk menjatuhkan tim Irfan. Namun Irfan dengan lihainya ia bermain bola, Irfan dapat melewati beberapa pemain dan langsung menendang bola dengan keras dan terarah sehingga bola dapat masuk ke dalam gawang dan menjadi gol bagi tim Irfan. Seluruh tim Irfan pun bersorak gembira ketika gol pertama dapat terjadi.
Rizky pun terkejut ketika ia melihat Irfan dapat melakukan hal hebat tersebut dan ia langsung kembali bermain dengan penuh emosi. Rizky pun menggiring bola dengan brutal melewati pemain dari tim Irfan dan dengan kerja sama dengan timnya Rizky pun dapat mencetak gol dengan mudah. Kemudian Rizky pun berkata “Hahaha sudah kubilang kalian bukan level kami”. Pemain dari tim Irfan pun mulai terlihat emosi. Namun Irfan tetap menahan emosinya dan terus fokus ke pertandingannya. Kemudian dengan sengitnya persaingan antara dua tim akhirnya mendapatkan hasil seri pada babak pertama. Kedua tim beristirahat terlebih dahulu sebelum menuju pada babak yang kedua. Irfan dan timnya pun mendiskusikan strategi untuk babak yang kedua dan juga tim Rizky melakukan hal yang sama.
Rizky pun mulai merencanakan untuk melakukan tekel keras kepada Irfan agar ia mengalami cedera dan tidak bisa bermain lagi. Lalu babak yang kedua pun dimulai Irfan pun seperti biasa memberikan performa yang baik dengan melewati beberapa pemain namun sulit untuk mencetak gol karena dijaga dengan ketat. Dan ketika Irfan melewati pemain dan sudah berada di depan kiper, Rizky dengan cepat langsung ia menekel Irfan dengan cukup keras sehingga Irfan teriak meringis kesakitan sambal memegang kakinya yang cedera. Para pemain di tim Irfan pun langsung mulai protes kepada tim Rizky sehingga keadaan pun makin memanas. Dan akhirnya pun disepakati tim Irfan mendapatkan pinalti dan Irfan masih sanggup untuk mengeksekusi pinalti tersebut.
Lalu pinalti pun diberikan dan Irfan
sambil menahan kesakitan, ia mencoba untuk menendang bola tersebut dengan arah
yang tepat dan langsung menjadi gol untuk tim Irfan. Para pemain dari tim Irfan
pun kembali bersorak gembira ketika tendangan Irfan berhasil menjadi gol. Rizky
pun sangat kesal karena Irfan berhasil mengeksekusikan pinalti tersebut dengan
baik. Namun ketika pertandingan berlanjut, Irfan sudah tidak mampu untuk
melanjutkan karena kakinya makin sakit. Dan akhirnya Irfan terpaksa harus
menepi dan digantikan dengan temannya yang lain. Kesempatan tersebut dapat
diambil dengan baik oleh tim Rizky sehingga tim Rizky mampu mencetak gol dengan
mudah karena dengan tidak adanya Irfan, timnya akan menjadi mudah untuk
dikalahkan oleh tim Rizky. Dan akhirnya tim Rizky berhasil memenangkan
pertandingan tersebut.
Dan akhirnya lapangan pun berhak ditempati oleh Rizky dan teman – temannya. Rizky pun sombong dan merendahkan Irfan dan teman – temannya karena ia berhasil mengalahkan Irfan dan teman – temannya. Irfan dan teman – temannya pun pulang dengan keadaan murung. Ketika di perjalanan, Irfan merasa kakinya yang cedera merasa semakin sakit. Alif, dan Adit pun segera membawa Irfan ke puskesmas terdekat. Kemudian ketika diperiksa, kaki Irfan telah mengalami cedera parah dan apabila dibiarkan akan semakin memburuk sehingga harus menjalani operasi. Namun biaya operasinya sangat mahal, ibu Irfan tidak sanggup untuk membayarnya. Namun dengan dermawannya seorang Alif, ia dan orangtuanya dengan ikhlas membayarkan biaya operasi Irfan. Dan akhirnya operasi yang dijalankan berhasil dengan lancar.
Irfan dan ibunya sangat berterima kasih kepada Alif dan orangtuanya yang sudah membiayai operasi Irfan. “Terima kasih banyak, pak, bu sudah membantu membiayai operasi anak saya. Saya ingin sekali membalas Irfan atas jasa bapak dan ibu” kata ibu Irfan sambal menangis. Kemudian Ayah Alif berkata “Tidak apa – apa bu, saya sangat bersyukur bisa membantu teman anak saya yang sedang mengalami kesusahan, ibu tidak perlu memberi imbalan apa – apa”. “Saya sangat memohon pak, saya ingin membalas jasa bapak, tolong saya akan melakukan apa saja” jawab Ibu Irfan. “Baiklah jika ibu memaksa, saya ada tawaran sebagai asisten rumah tangga di rumah saya, bagaimana ibu apakah ingin menerima tawaran saya?” jawab Bapa Alif.
“Baik pak, saya menerima sekali menjadi asisten rumah tangga, tanpa dibayar pun saya sangat menerima pak” jawab Ibu Irfan. Ayah Alif pun menjawab “Tidak perlu seperti itu, Ibu tetap saya akan gaji per bulan 3 juta ditambah anjungan untuk Irfan, deal ya”. Ibu Irfan pun menjawab dengan penuh rasa syukur “Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih banyak pak, saya tidak tahu lagi harus berkata apa” sambil melakukan sujud syukur. Akhirnya Ibu Irfan memiliki pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dan dapat menafkahi Irfan lebih dari yang biasa ia dapat. Dan juga Irfan mendapat anjungan dari Bapak Alif. Alif sangat senang orangtuanya membantu Irfan agar Irfan dapat berkembang lebih jauh dan memiliki masa depan yang cerah.
Akhirnya kaki Irfan sudah bisa bermain sepak bola lagi dan bisa kembali mengejar cita – citanya yaitu menjadi pemain bola. Lalu Irfan ingin mengembangkan lagi bakatnya dengan mengikuti SSB (Sekolah Sepak Bola) namunia tidak punya cukup uang. Akhirnya ia bekerja keras mencari uang dengan setiap harinya membantu Ibu berjualan pada sore hari dan terus mengantarkan koran setiap paginya. Dan seiring berjalannya waktu akhirnya ia cukup uang untuk daftar ke Sekolah Sepak Bola di dekat kampungnya. Ketika memasuki uji seleksi ia dengan mudah menjalankan tes seleksi tersebut dengan sangat baik, sehingga ia diterima di Sekolah Sepak Bola tersebut. Irfan sangat senang dapat bergabung ke dalam Sekolah Sepak Bola tersebut.
Kemudian beberapa tahun kemudian, Irfan lulus SMP dan ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke SMA karena tidak ada biaya dan Irfan juga ingin memfokuskan dirinya ke sepak bola. Dengan Latihan beberapa tahun di Sekolah Sepak Bola keahlian Irfan sangat meningkat drastic. Sehingga ia mendapatkan beasiswa dari Sekolah Sepak Bolanya karena Irfan berhasil memenangkan turnamen – turnamen besar dengan membawa nama Sekolah Sepak Bolanya. Itu juga menjadi salah satu alasan Irfan tidak terlalu focus mengejar pendidikannya. Namun, ia tetap membantu Ibu berjualan dan mengantarkan Ibunya ke rumah Alif dengan menggunakan sepeda bekas hasil jerih payah Irfan mengantarkan koran dan berjualan kue. Dan juga ada hasil dari hadiah turnamen sepak bola yang ia menangkan, namun Sebagian besar uang tersebut dia kasihkan kepada Ibunya.
Tidak lupa juga, sahabatnya Alif dan Adit mereka tetap melanjutkan pendidikannya ke SMA demi cita – cita mereka masing – masing dan sudah berjanji suatu saat akan menjadi satu tujuan di dalam karir mereka masing – masing. Namun, Alif dan Adit belajar di sekolah yang berbeda. Namun Irfan, Alif, dan Adit tetap selalu bermain bersama ketika pulang sekolah. Mereka selalu bercanda satu sama lain dan membicarakan masa depan mereka satu sama lain. “Nanti ketika aku sudah menjadi pemain top, aku berusaha untuk masuk timnas dan membela Indonesia menjadi nomor satu di dunia ha ha ha” ucap Irfan. “Wah itu sih keren bud, kalo aku sih kalau perusahaan ku sudah besar, akan ku beli saham klub sepakbola dan akan kujadikan klub terbaik ha ha ha” ucap Alif tidak mau kalah.
“Kalau aku sih ingin menjadi pelatih timnas, aku bakal melatihmu dengan keras Irfan, agar kita bisa menjuarai piala dunia, wah bagaimana rasa bangganya membawa nama Indonesia di dunia ha ha ha” ucap Adit. “Itu sih bakal keren dit, yang penting kita kerja keras aja dan selalu minta bantuan kepada Allah agar dimudahkan jalannya ya teman – teman” ucap Irfan. Begitulah obrolan mereka membicarakan masa depan mereka masing – masing. Namun dengan cita – cita mereka yang tinggi, akan ada juga rintangan – rintangan terberat yang harus dilalui oleh masing – masing dari mereka. Mereka pasti akan bekerja keras dan pantang menyerah sesuai dengan pesan Irfan yang disampaikan setiap mereka membicarakan masa depan mereka masing – masing.
Lalu pada suatu hari, Ibu Irfan jatuh sakit, ketika diperiksa ke puskesmas, Ibu Irfan terkena penyakit yang cukup parah namun masih dapat diredakan dengan obat – obatan. Namun Ibu Irfan tidak akan memberi tahu penyakitnya kepada Irfan karena Ibu Irfan tidak ingin Irfan merasa khawatir. Sementara itu, Irfan tetap menjalankan aktivitas sehari – harinya dengan mengantarkan koran di pagi hari, Latihan di klub SSB nya, kemudian pulang nya ia bermain Bersama Alif dan Adit, lalu sorenya ia berjualan kue sendirian karena Ibu Irfan beralasan ada urusan mendadak. Namun Irfan merasa hal yang tidak enak terjadi, tetapi ia hanya beranggapan itu hanya perasaannya saja, lalu Irfan tetap menjalankan harinya seperti biasa
Lalu pada suatu saat, terdapat pengumuman penting dari SSB tempat Irfan berlatih, bahwa terdapat seleksi Garuda Selection untuk U-16. Irfan sangat bersemangat sekali, dengan umurnya yang sekarang genap 16 tahun, Irfan berkesempatan untuk bergabung bersama Garuda Selection untuk membela Indonesia. “Akhirnya kesempatanku telah datang” ucap Irfan dalam hati. Dia sudah tidak sabar untuk mengikuti seleksi tersebut. Dengan latihan keras setiap harinya, Irfan sangat optimis untuk lolos seleksi dan masuk ke dalam Tim Garuda Selection sehingga mencapai mimpinya untuk membela Indonesia dan mengibarkan bendera merah putih di kandang negara lain dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang dan rasa bangga.
Kemudian keesokan harinya, hari dimana seleksi dilaksanakan. Irfan sangat bersemangat menjalani hari – harinya berbeda seperti biasanya. Sebelum berangkat, Irfan tidak lupa untuk pamit dan meminta doa kepada Ibunya agar diberikan kelancaran selama Irfan melakukan seleksi. “Bu, Irfan pamit ingin melakukan seleksi Garuda Selection, Irfan minta doa juga ya bu” ucap Irfan. “Iya Irfan, semoga diberikan kelancaran ya saat melakukan seleksi dan menjadi peserta terbaik, Aamiin,” doa dari Ibu Irfan. “Assalamualaikum, Irfan pergi dulu” pamit Irfan. “Waalaikumsalam, nak” jawab Ibu Irfan dengan bangga. Pergilah Irfan dengan semangat menggunakan sepeda bekasnya yang masih layak pakai menuju ke tempat SSB nya dimana seleksi tersebut diadakan.
Sampai di tempat seleksi, Irfan bertemu dengan juri yang menyeleksinya yaitu sang legenda Bambang Pamungkas. Irfan sangat terkejut dan sangat bersemangat ia bisa bertemu langsung dengan Bambang Pamungkas. Seleksi pun dimulai, Irfan menampilkan performa yang sangat maksimal dan membuat para juri termasuk Bambang Pamungkas sangat terkagum. Irfan akhirnya tenang dan senang karena melihat ekspresi dari para juri. Seleksi pun selesai, hasilnya akan diumumkan besok hari. Irfan pun pulang dan menceritakan pengalamannya kepada para sahabatnya, Alif dan Adit
Lalu pada malam hari, di rumah Irfan, ia menceritakan harinya saat seleksi kepada Ibu Irfan. Namun tiba – tiba Ibu Irfan batuk – batuk dan mengeluarkan darah. Ternyata Ibu Irfan masih memiliki penyakit yang dialami sejak beberapa tahun yang lalu. Irfan pun terkaget lemas dan langsung melarikan Ibunya ke rumah sakit terdekat. Ternyata penyakit Ibu Irfan mulai kambuh dan harus segera dilakukan operasi. Namun dengan kondisi seperti ini, Irfan tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai operasi Ibunya tersebut. Irfan bimbang karena ketika sebelumnya senang setelah melakukan seleksi kemudian mengalami hal yang sangat menyedihkan. Namun Irfan tetap tegar dan akan berusaha keras untuk mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibu Irfan
Keesokan harinya, dimana hasil seleksi akan diumumkan. Irfan dengan hati yang sedikit senang namun resah, ia tetap menjalani pagi harinya seperti biasa. Berangkat dengan sepeda bekasnya Irfan menuju tempat SSB nya. Kemudian ketika Irfan melihat pengumuman hasil seleksi, Irfan terkejut senang karena ia berhasil menjadi lulusan favorit dari pada juri. Irfan pun sangat senang ketika membaca pengumuman tersebut. Akhirnya Irfan dapat ikut serta dalam squad Garuda Selection untuk membela Timnas Indonesia U-16. Irfan dan teman – teman lainnya yang lolos akan terbang ke beberapa negara untuk melakukan tour dunia yang bertujuan untuk mengasah skill dari pemain Garuda Selection yang baru. Dan Irfan diharapkan menjadi pemain yang sangat diamati perkembangannya oleh klub – klub besar eropa.
Ketika Irfan mendapatkan penghargaan sebagai lulusan favorit, Irfan diberikan piagamnya langsung oleh Bambang Pamungkas. “Selamat Irfan atas penghargaannya semoga selalu konsisten dan berkembang menjadi pemain top” ucap Bambang Pamungkas. “Terima kasih pa” Irfan menjawab dengan lesu. Kemudian Bambang Pamungkas pun terheran dan bertanya “Mengapa Irfan terlihat lesu, apa ada masalah yang mengganggu?”. “Mohon maaf pa, di momen seperti ini, saya tidak bisa terlihat senang karena Ibu saya sedang sakit parah dan harus melakukan operasi, namun biaya operasinya sangat mahal”. Bambang Pamungkas pun tersenyum dan ia menjelaskan bahwa ada tunjangan dalam kontrak di Garuda Selection tersebut sehingga semua ditanggung oleh negara.
“Waduh pa, serius nih? Alhamdulillah” ucap syukur Irfan. “Iya benar, jadi Irfan tidak usah khawatir. Tugas kamu sekarang adalah terus bekerja keras dan jangan lupa untukselalu menjalankan ibadah dengan baik”. Ucap Bambang Pamungkas. Irfan pun akhirnya lega dan sangat bersyukur ia dapat membiayai operasi Ibunya yang sedang sakit. Akhirnya Irfan pun berlatih dengan keras dan selalu menjalankan ibadah dengan baik sesuai dengan pesan Bambang Pamungkas. Sehingga skill Irfan semakin hari semakin meningkat. Irfan pun sudah merasakan bagaimana pergi ke luar negri dan bertanding melawan negara lainnya dengan membawa nama Indonesia.
Lalu pada akhir cerita, Irfan
melewati banyak pengalaman penting selama karirnya dari tim Garuda Selection,
kemudian Irfan direkrut oleh Tim besar eropa, Real Madrid dan menjadi pemain
Indonesia pertama yang menjadi pemain top di klub besar eropa. Performa Irfan
pun konsisten tiap tahunnya dan selalu dipanggil timnas hingga menjuarai banyak
piala di level timnas maupun di level klub. Jangan lupa juga Alif dan Adit juga
berhasil meraih impiannya berkat kerja keras yang dilakukan. Alif menjadi
miliyarder yang selalu menginvestasi kepada klub – klub yang sedang krisis dan
juga pemegang sebagian saham Real Madrid. Sedangkan Adit sudah menjalani karir
dengan baik sebagai manajer klub dari dalam negeri hingga luar negri dan
sekarang sedang mendominasi dengan Irfan di klub Real Madrid.
Kerangka novel yang dibuat sudah bagus dan cerita yang disampaikan sangat menarik dan seru
ReplyDeleteKerangka novelnya menarik untuk dibaca dan menurut saya berpotensi menjadi best seller novel. Tema yang diangkat juga unik dan sangat relate dengan kehidupan mahasiswa di zaman sekarang. Bahasanya juga mudah dicerna untuk remaja.
ReplyDeleteRancangan novel yang dibuat sangat lengkap,dan menjelaskan isi novel yang akan dibuat dan mudah dipahami penbacanya sehingga menarik pembaca untuk membacanya.👍
ReplyDelete