Menyusun Teks Novel Sejarah
Assalamualaikum wr wb
Dibuatnya laman blog ini untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia pada Bab "Teks Cerita Sejarah". Sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri :
Kelas : XII MIPA - 10
Absen : 14
Namaku Bambang Pamungkas, Aku lahir di Getas, Kabupaten Semarang pada tanggal 10 Juni 1980. Aku adalah anak dari pasangan Misrianto dan Suriptinah. Aku adalah anak keenam dari 7 bersaudara. Kakakku bernama Agus Handoko Misranto, Agus Budhi Suseno, Tri Agus Prasetijo, Eni Kusumawati, Setyowati dan adikku yang bernama Dyah Ernawati. Aku terlahir dari orangtua sederhana, ayahku adalah seorang pelatih sepakbola dan ibuku adalah seorang guru tari.
Ketika kecil, setiap minggu, pada hari senin, selasa, dan rabu aku senang bermain bola karena ada dorongan dari ayahku dan pada hari sabtu minggu aku mengikuti sanggar tari karena dorongan dari ibuku. Aku sering bermain bola dengan tidak menggunakan alas kaki atau nyeker. Sehingga pada suatu ketika ayahku berkata,“Nak, jika ingin menjadi pesepakbola sungguhan, kau harus memakai sepatu.” ucap ayahku. Ayahku pun membelikanku sepatu bola untukku bermain. Namun aku lebih nyaman bermain sepak bola dengan tidak menggunakan sepatu dan sering meninggalkan sepatuku di pinggir lapangan.
Sejak
saat itu, aku didaftarkan di SSB Hobby Sepakbola Getas dan juga SSB Ungaran
Serasi untuk menambah skill dan pengalaman bermainku. Aku termasuk pemain yang
bekerja keras dibandingkan temanku yang lain disana. Sehingga pada tahun-tahun
berikutnya, Aku bergabung dengan Pesada Utama Ungaran, Persikas Semarang, dan
akhirnya berhasil masuk DIKLAT Salatiga. Itulah perjalananku dalam karir junior
sebelum masuk dalam karir professional.
Kemudian ketika itu pada tahun 1997, aku sudah duduk di kelas 2 SMA di SMA Negeri 1 Salatiga, aku memiliki pengalaman yang sangat berpengaruh pada hidupku. Saat itu aku tercatat sebagai siswa DIKLAT Sepakbola Salatiga. Pada waktu itu, aku mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam Tournamen Sepakbola Pelajar Asia di Patna, India. Dalam tim waktu itu ada juga Ismed Sofyan, Ellie Aiboy, Warsidi, Erol, Ngadiono dll.
Sebagai pribadi tentu aku sangat bangga, karena siapa yang tidak ingin mewakili negaranya, apalagi ini adalah pertama kali aku akan naik pesawat terbang dan akan pergi ke luar negeri. Bahkan malam sebelum kami berangkat, aku sempat susah tidur karena perasaan yang bercampur aduk, antara senang dan takut naik pesawat terbang. Akan tetapi, walaupun sempat mengalami penundaan penerbangan dan harus menunggu di Singapore, serta mengalami ganguan cuaca yang sangat luar biasa dalam penerbangan New Delhi-Patna, akhirnya kami sampai dengan selamat.
Terlebih dalam pertandingan itu kami mampu memukul Malaysia 2-0, melalui gol dari aku dan Ellie Aiboy. Dan sejak saat itu, ketika aku pulang dan kembali ke sekolah di SMAN 1 Salatiga, dalam setiap upacara bendera aku selalu berusaha untuk se-hikmat mungkin dalam menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Beberapa
tahun berikutnya, pada tahun 1999, aku bergabung dengan klub yang akan menjadi
perjalanan utama dalam hidupku, yaitu Persija Jakarta. Ketika pertama kali aku
melihat kantor klub, disana aku
melihat banyak piala, piala besar mereka.
“Wah, ini adalah klub
besar, begitu banyak sejarah di sini," diriku bergumam dalam hati.
Selain itu, berdasarkan sejarah, Persija Jakarta mungkin sudah 18 tahun atau lebih belum pernah menjadi juara. Dan itu menjadi motivasiku untuk bergabung dengan klub ini dan ikut membangun klub ini untuk menjadi juara.
Pada musim awalku di Persija, aku berhasil tampil sebanyak 30 pertandingan dan berkontribusi untuk tim dengan menjadi topskor liga dengan total mencetak 24 gol. Itu merupakan awal yang bagus untukku sebagai seorang yang masih berusia 19 tahun pada saat itu. Namun, kami masih belum beruntung untuk menjuarai Liga Indonesia karena dikalahkan di laga semifinal oleh PSM Makassar dan gagal masuk ke babak akhir. Aku cukup kecewa namun juga tetap semangat untuk perjalanan berikutnya agar menjadi lebih baik lagi.
Pada
tahun berikutnya, dengan penampilan apik di musim sebelumnya bersama Persija,
Aku mendapat tawaran bermain di luar negeri, yaitu dari Liga Belanda. Itu
merupakan hal yang menarik karena berkesempatan untuk menambah pengalamanku
dengan bermain di eropa.
“Ini menjadi kesempatanku
untuk mendobrak lebih jauh potensi dalam diriku” ucapku
Kemudian akhirnya aku menandatangani kontrak dengan klub Divisi III Belanda, EHC Norad pada tahun 2000. Meskipun aku ditempatkan disana sebagai posisi gelandang, aku tetap berusaha memberikan penampilan terbaikku.
Karirku selama di Belanda cukup bagus. Aku berhasil mencatatkan sebanyak 7 gol untuk EHC Norad. Aku juga beberapa kali masuk pemberitaan surat kabar lokal Dagblad de Limburger, namun namaku seringkali salah disebut, seperti contohnya adalah "Peng-Peng" dan "Bampang Pamugas". Namun pada akhirnya, karirku di klub EHC Norad hanya berlangsung selama kurang lebih 3 bulan saja karena tidak ada perpanjangan kontrak aku juga sulit untuk beradaptasi dengan cuaca di sana. Akupun kembali ke tempat berasal yaitu Indonesia dan kembali membela klub Persija Jakarta.
Dengan karirku bermain di Eropa hanya berlangsung sebentar, diriku pasti merasa kecewa. Padahal aku sempat mendengarkan kabar bahwa penampilanku menarik minat klub raksasa Belgia, yaitu Standard Liege. Namun kekecewaanku hilang ketika timku berhasil memenangkan Liga Indonesia tahun 2001. Dengan mengalahkan PSM Makassar di final, membawa Persija mengangkat piala Liga Indonesia setelah bertahun-tahun. Itu merupakan pengalamanku yang tak terlupakan bersama dengan rekan setim dan juga para fans.
Selama berkarir di dunia sepakbola, aku memiliki ritual sebelum pertandingan, Biasanya aku sholat malam sebelum pertandingan, selebihnya mendengar musik pada hari pertandingan yang biasanya lagu-lagu klasik seperti Vivaldi, Bach dan Mozart karena membantuku untuk lebih rileks dan konsentrasi. Sedangkan menjelang pertandingan, aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu Hip Hop seperti Eminem, Mistykal, 50 Cent atau Jay Z, karena mampu menyalakan andrenalinku untuk menghadapi pertandingan. Dan yang paling penting, di manapun aku bertanding, aku selalu berusaha memohon doa restu dari kedua orang tua dan istri aku melalui telepon.
Setelah beberapa tahun bersama Persija, aku memetuskan untuk menambah pengalamanku dengan bermain di negeri tetangga, Malaysia. Aku menandatangani kontrak dengan klub berjuluk The Red Giants, yaitu Selangor FC. Di musim pertama, aku berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan torehan 23 gol dari 24 pertandingan. Dan juga aku berhasil membawa Selangor FC memenangkan Piala FA Malaysia, Piala Malaysia dan Liga Utama Malaysia. Selama karirku di negeri jiran, aku sukses mencetak 63 gol di seluruh kompetisi resmi. Sehingga dengan pencapaianku tersebut aku dijadikan legenda oleh klub.
Pengalamanku di kancah internasional juga tidak kalah menarik dengan pengalaman karirku yang lain. Aku mengalami suatu pengalaman yang tidak terlupakan selama membela Timnas Indonesia. Salah satunya adalah Ketika Indonesia ikut dalam Piala AFF 2010 lalu. Di hadapan 100 ribu pendukung merah-putih yg memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, air mata itu tumpah. Di saksikan oleh jutaan pasang mata yg menonton melalui layar kaca, kami kembali tersungkur. Kesedihan itu kembali menyapa, kegetiran itu kembali menghampiri, rasa pahit itu kembali harus di telan, dan kegagalan itu harus kembali kita rasakan bersama.
Beberapa pemain nampak menangis tersedu-sedu, beberapa yg lain terlihat berkaca-kaca, sisanya nampak membuang tatapan nanar, kosong seakan tidak percaya. Sungguh sangat wajar jika mereka terlihat sangat sedih dan terpukul malam itu. Setelah mengawali gelaran piala AFF ini dengan begitu impresif dan elegan, akhirnya kami harus kembali tertunduk lesu.
Dengan hasil 6 kemenangan dan hanya 1 kali menelan kekalahan, ternyata kami belum juga mampu membawa pulang Trophy itu ke pangkuan ibu pertiwi. Bandingkan dengan pencapaian sang juara Malaysia, yg hanya berbekal tiga kemenangan, dua kali hasil seri dan dua kali kekalahan. Sepakbola memang penuh misteri, terkadang hasil pertandingan tidak selamanya terlihat fair dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak aneh, 3 kali kita berhadapan dengan Malaysia, dengan hasil 2 kemenangan dan 1 kekalahan, akan tetapi pada akhirnya merekalah yg keluar sebagai juara.
Memang aneh dan sedikit sulit di terima akal, namun itulah sepakbola, Malaysia mengalami kekalahan di saat yg tepat, sedangkan kekalahan kita terjadi disaat-saat yg paling krusial dalam sebuah kejuaraan. Sehari setelah Indonesia memastikan diri masuk final, kami sempat diundang dalam sebuah acara makan siang oleh Bpk Aburizal Barkie di kediaman beliau. Saat ramah tamah, aku sempat berbicara di depan semua yg hadir dalam acara tersebut.
“Ini bukanlah final pertama untuk kita (Indonesia), ini adalah final ke 4 setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Keberhasilan ini memang patut di rayakan, akan tetapi seharusnya tidak mengurangi fokus dan konsentrasi kita di 2 laga final, yg menurut aku sangat berat” ucapku demikian.
Dan ternyata apa yg aku khawatirkan saat itu menjadi kenyataan. Kita sempat kehilangan konsentrasi pada pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil. Hal tersebutlah yg mengakibatkan kita harus menerima 3 gol hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Iya, bencana 15 menit yg membuat kita harus bekerja dengan sangat keras di Jakarta pada leg kedua. Aku kurang sependapat dengan beberapa kalangan yg menyalahkan keberadaan sinar laser di stadion Bukit Jalil, ketika itu. Iya, sinar laser tersebut memang sedikit banyak mengganggu, akan tetapi alangkah kurang bijaksana jika kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama atas kekalahan kita malam itu.
Usai pertandingan,
banyak sekali pengamat yang menyalahkan para punggawa timnas yg dalam pandangan
mereka bermain sangat buruk. Beberapa pemain mendapatkan sorotan yg sangat
tajam dan bahkan beberapa pemain tersebut di nilai tidak pantas berseragam
merah-putih. Bagiku, hal tersebut sungguh sangat menggelikan. Aku memang
sependapat jika beberapa pemain sempat melakukan kesalahan. Akan tetapi
bukankan secara keseluruhan dalam 5 pertandingan sebelumnya, mereka telah
melakukan kerja yg luar biasa bagi tim ini.
Aku sebagai pemimpin dari tim ini, tidak akan pernah membiarkan salah satu pemain tertinggal di belakang. Dan pada akhirnya, akulah yg akan bertanggung jawab mengenai apapun yg terjadi di dalam tim ini. Aku adalah pemain yg berbicara atas nama tim ketika konferensi pers sesaat setelah laga final digelar. Aku sengaja datang dalam konferensi pers tersebut, karena itu merupakan tanggung jawabku, sekali lagi itu merupakan tanggung jawabku.
Diantara seluruh punggawa merah-putih, mungkin saja aku adalah pemain yg paling terpukul dengan kegagalan tersebut. Ini merupakan kegagalanku untuk yg kesekian kalinya, pertandingan melawan Malaysia di final itu sendiri, adalah penampilanku yang ke-86 untuk merah putih dalam kurun waktu 11 tahun, 5 bulan, 3 minggu dan 5 hari (Tanpa ada satupun gelar tim penting yg mampu aku raih). Dan mungkin, pertandingan tersebut juga akan menjadi penampilanku yg terakhir untuk Indonesia pada saat itu.
Sejujurnya malam itu aku ingin menangis, akan tetapi hati kecilku mengatakan “Jangan!”. Sebagai pemain senior, tentu aku bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh punggawa tim ini. Aku harus tetap memelihara keyakinan seluruh pemain, jika masih ada hari esok. Aku harus tetap memberi semangat kepada mereka, jika kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Saat itu, aku berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tegar, walaupun sejujurnya hatiku juga retak.
Saat itu, aku menepuk
pundak Hamka, Maman, Markus, Nasuha, Zulkifli, Christian, Bustomi dan beberapa
pemain yg lain sambil berkata,
“Hei, kita sudah melakukan yg terbaik
kawan, tidak ada yg perlu di sesalkan”
Aku juga sempat memeluk Irfan Bachdim
yg tengah menangis dan berkata,
“It’s ok Irfan, maybe next time bro,
maybe next time”.
Aku juga menghampiri Arif Suyono yg nampak menangis tersedu-sedu di ujung bangku cadangan sembari berbisik, “Isin rek ketok no TV nangismu hehehe”.
Tidak lupa, aku juga membesarkan hati Firman Utina, yg tengah merasa sangat bersalah dengan kegagalannya dalam menuntaskan tendangan malam itu. Ketika itu aku berkata, “Terlepas dari kegagalan pinalti tadi, loe udah nglakuin tugas yg luar biasa buat tim ini, Man. Siapapun bisa gagal pinalti sob, gue juga sering. Loe pantes jadi pemain terbaik AFF kali ini Man, Selamat!!”
Aku sebagai kapten berkewajiban membesarkan hati seluruh pemain yg sebagian besar masih berusia muda, karena mereka masih mempunyai masa depan yg sangat panjang. Di depan mereka, sudah menunggu sebuah tanggung jawab yg juga tidak kalah besar. Kekalahan pada saat itu memang sangat menyakitkan, akan tetapi tidak seharusnya hal tersebut diratapi dengan terlalu berlebihan. Kegagalan pada saat itu memang menyisakan kepedihan, akan tetapi hal itu jangan sampai memadamkan semangat dan mimpi kita bersama.
Itulah salah satu pengalaman di karir Timnas yang tidak terlupakan. Di samping cerita karir, aku juga memiliki cerita pribadi, aku menikah dengan Tribuana Tungga Dewi, dengan dikaruniai tiga anak yaitu Salsa Alicia, Jane Abel, dan Syaura Abana. Aku awalnya tidak punya pikiran untuk menjadi pemain sepak bola. Aku memiliki hobi membaca dan memasak, dan memiliki ambisi untuk menjadi seorang guru atau koki pada saat itu.
Aku juga mencurahkan sebagian waktu luangnya untuk kegiatan amal, mempromosikan Yayasan Bambang Pamungkas dibentuk untuk memberikan bantuan keuangan dan sumber daya untuk sekolah-sekolah di Indonesia. Aku juga terlibat dalam penggalangan dana bagi badan amal kanker anak-anak.
Dan pada akhirnya, pada tahun 2019 aku memutuskan untuk pensiun sebagai pemain sepak bola. Persija Jakarta merupakan klub terakhirku dan Liga 1 2019 menjadi kompetisi terakhir di karirku. Sangat berat untuk meninggalkan hal-hal yang sudah dilewati selama puluhan tahun. “Orang bijak berkata, laki-laki sejati tidak menangis, tapi hatinya berdarah. Malam ini, ijin kan saya untuk menjadi seorang laki-laki sejati, dengan tidak banyak berbicara, agar saya tidak menangis, cukup hati saya yang berdarah.” Itulah kutipan dari pidatoku saat menjalani laga terakhirku bersama Persija dihadapan para fans dan penonton sepakbola.
Namun memang sudah saatnya untuk diriku menikmati masa pensiun sebagai pesepakbola. Namun pensiun dari lapangan bukan berarti aku tidak akan turun tangan. Tentu saja aku akan tetap ingin menjadi bagian dari klub Persija setelah mengabdi selama bertahun-tahun. Aku pun didaulat menjadi manajer dari Persija. Dan dikenang sebagai legenda sepakbola Indonesia, BEPE20.
- TAMAT -
Demikian tugas ini saya buat dengan penuh tanggung jawab. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan tugas berikutnya. Sekian dari saya dan terima kasih.
Pembawaan ceritanya menarik dan sesuai dengan kaidah kebahasaan
ReplyDeleteCeeritanya sangat menginspirasi dan menarik. Pnggambaran tokoh dalam ceritanya pun sudah jelas...
ReplyDeleteCeritanya menginspirasi,penggambaran tokohnya pun sudah baik ๐๐๐
ReplyDeleteCeritanya sangat menginspirasi sekali untuk kita semua yang ingin meraih cita-cita dan teksnya sudah memenuhi kaidah kebahasaan teks novel sejarah๐
ReplyDeleteKeren!
ReplyDeleteBagus han keren, Strukturnya sesuai, tokohnya juga sangat menginspirasi karena merupakan idola saya , pamungkas penyanyi to the bone
ReplyDelete